Ekonomi Jepang Tumbuh Pesat, Bursa Asia Dibuka Menguat

Berita, Teknologi381 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung menguat pada perdagangan Selasa (15/8/2023), di tengah sikap investor yang menanti rilis data ekonomi di Asia-Pasifik.

Per pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,75%, Shanghai Composite China naik 0,14%, Straits Times Singapura bertambah 0,42%, dan ASX 200 Australia terapresiasi 0,39%.

Sedangkan untuk indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,43% pada pagi hari ini.

Sementara untuk indeks KOSPI Korea Selatan pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur memperingati Hari Kemerdekaan.

Dari Jepang, data pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2023 telah dirilis. Berdasarkan data dari pemerintah setempat, Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang pada kuartal II-2023 tumbuh menjadi 6% (year-on-year/yoy). Angka ini lebih baik dari revisi PDB kuartal I-2023 yang hanya tumbuh 3,7%.

Sedangkan secara basis kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), PDB Negeri Sakura pada kuartal II-2023 tumbuh 1,5%, juga lebih baik dari revisi kuartal I-2023 yang hanya tumbuh 0,9%.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspor yang tumbuh 3,2% dari kuartal sebelumnya. Ekspor barang seperti mobil tumbuh seiring berkurangnya kendala rantai pasokan, termasuk kekurangan semikonduktor. Sektor pariwisata dalam negeri yang pulih setelah pandemi Covid-19 turut berkontribusi pada ekspor jasa.

Sedangkan impor turun 4,3% pada periode April-Juni, yang membantu meningkatkan ekspor neto, menghasilkan PDB yang lebih tinggi.

Ekonom mengatakan bahwa meskipun pengeluaran untuk restoran dan perjalanan naik setelah pemerintah Jepang menurunkan status ancaman Covid-19 pada Mei lalu, tetapi inflasi yang sedang berlangsung membebani pengeluaran konsumen untuk barang-barang yang tidak tahan lama seperti makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga  Pesta Rakyat Blora dengan Sego Buntel Daun Jati

Selain Jepang, investor di Asia-Pasifik juga akan memantau rilis data produksi industri, penjualan ritel dan tingkat pengangguran China, serta meeting minutes bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA).

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas menguat terjadi mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, yang ditutup di zona hijau kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik tipis 0,07%, S&P 500 menguat 0,58%, dan Nasdaq Composite melesat 1,05%.

Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan kemarin dengan ditopang sejumlah sentimen positif. Salah satunya adalah dari saham pembuat chip Nvidia yang melonjak menyusul catatan bullish dari Morgan Stanley.

Di lain sisi, fokus investor saat ini adalah data penjualan ritel AS untuk periode Juli. Untuk data penjualan ritel AS secara tahunan (yoy), pada periode Juli 2023 diperkirakan tidak mengalami banyak perubahan, alias masih sama seperti periode Juni 2023 yakni sebesar 1,5%.

Namun secara bulanan (month-to-month/mtm), penjualan ritel AS diperkirakan turun menjadi 0,4%.

Selain data penjualan ritel AS, fokus investor di AS lainnya yakni risalah Federal Open Market Comittee (FOMC) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada Rabu mendatang atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Pelaku pasar melihat peluang hampir 89% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan pada depan, menurut alat Fedwatch CME Group.

Laporan terbaru Goldman Sachs mengatakan perkiraan dasarnya menyerukan The Fed untuk mulai memangkas suku bunga pada kuartal kedua tahun 2024.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bursa Asia Dibuka Loyo, IHSG Bakal Pesta Sendirian Lagi?

Baca Juga  Soal Merger dengan Pelita Air, Ini Bocoran dari Bos Garuda

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *