Evergrande dan The Fed Bawa Ancaman Mengerikan Ini ke RI

Berita, Teknologi229 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Perekonomian global tengah melalui masa-masa berat pasca pandemi. Indonesia pun tak lepas dari imbas pelemahan tersebut.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan bahwa economic slowdown menjadi risiko utama yang membayangi perekonomian Indonesia. Pelemahan ekonomi ini dipantik dari goncangan yang tengah dihadapi pemerintah China.

Diketahui, Tiongkok tengah menghadapi banyak tantangan struktural. Diantaranya, menurunnya produktivitas, pembatasan ekspor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain, serta krisis real estate yang dipicu kasus evergrande.

Andry melihat, pertumbuhan ekonomi China tidak akan melebihi 4% pada tahun ini. Hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh ke pelemahan permintaan ekspor Indonesia ke China. Hal ini diperparah, situasi geopolitik China dan Amerika.

“Ketika adanya geopolitical unstability AS dan China, mereka tidak bisa sepenuhnya mengekspor produknya ke Amerika, maka China bisa membanjiri ekspor produknya ke Indonesia,” ucap Andry dalam Media Gathering Bank Mandiri secara virtual, pada Selasa, (22/8/2023).

Di samping faktor ketidakstabilan global, tingkat suku bunga dinilai juga bisa memengaruhi perekonomian Indonesia melambat. Andry menilai risiko akan besar jika The Fed merevisi suku bunga September di atas 5,75%.

“Kalau dinaikkan ke 6,25% misalnya, ini akan mengubah proyeksi nilai tukar dan benchmark rate, ini bisa aja ada potensi BI rate disesuaikan kembali,” paparnya.

Di sisi lain, bila resesi Amerika Serikat gagal melandai di level 1%, sisi ekspor Indonesia ke AS dinilai akan terdampak. Khususnya bagi komoditas yang dikonsumsi besar di AS seperti tekstil.

Bila menilik dari sisi domestik, Andry menjelaskan Indonesia tengah dibayangi oleh risiko perubahan iklim dan cuaca, lower trade surplus dan tahun politik 2024.

Baca Juga  Dipecat karena Kasus Penyalahgunaan Narkoba, Kombes Yulius Ajukan Banding

Lebih lanjut, Andry menjelaskan bahwa faktor cuaca yang lebih panas bisa mendorong gangguan panen dan produksi. Hal ini dinilai bisa mengerek inflasi dari 3% ke 3,2%.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Banyak Data Penting! Waspada, Salah Sedikit IHSG Bisa Ambruk

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *