Gokil! Harga Batu Bara Melesat 7,83% Pekan Ini

Berita, Teknologi241 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara pada pekan ini berhasil melesat lagi dan menandai posisinya sebagai yang tertinggi selama lebih dari sebulan terakhir.

Melansir dari data Refinitiv, pekan yang berakhir pada perdagangan Jumat (11/8/2023) harga sang pasir hitam melonjak 7,83% ke US$ 151,50 per ton. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi lebih dari sebulan terakhir atau tepatnya sejak 4 Juli 2023.

Lonjakan pada akhir pekan ini melanjutkan penguatan pekan sebelumnya sebesar 0,72%, dengan begitu secara bulanan harga batu bara berhasil bertahan di zona hijau sebesar 7,52%.


Penguatan harga batubara disinyalir akibat permintaan yang tinggi dari China yang baru mengakhiri larangan impor batubara Australia. Permintaan yang meningkat turut membuat arus laut Asia melonjak.

Tak hanya itu, adanya badai El Nino atau gelombang panas masih menjadi katalis positif untuk harga sang pasir hitam. Pasalnya kebutuhan energi semakin meningkat sebagai dampak dari kekeringan yang mengganggu pembangkit listrik tenaga air.

Melansir dari data bea cukai yang rilis 8 Agustus lalu menunjukkan total impor batubara China hingga akhir Juli sebesar 39,26 juta ton. Angka ini melonjak 66,9% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Oleh karena itu, selama tujuh bulan pertama tahun ini negeri pengimpor batubara terbesar dunia tersebut mencatatkan pembelian dari luar negeri sebanyak 261,18 juta ton, naik 88% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut mencakup semua tingkatan batubara, tetapi bagian terbesarnya terdiri dari batu bara termal yang erat digunakan untuk pembangkit listrik.

Sementara untuk batubara kokas, China melakukan impor batu bara kokas pada negara tetangganya yaitu Mongolia.
Melansir Reuters, Impor batu bara termal China diperkirakan mencapai 29,0 juta ton pada Juli oleh analis komoditas Kpler, naik dari 27,61 juta pada Juni dan menjadi bulan terkuat kedua pada sepanjang tahun ini.

Baca Juga  Waduh, IHSG Masih Tertahan di Bawah Area Penting Nih

Data Kpler menunjukkan impor batubara termal China mulai menguat mulai bulan Maret dan seterusnya, dan ini bukan hanya kebetulan setelah larangan tidak resmi pengiriman dari Australia berakhir.

Sebelumnya, Beijing telah memberlakukan pembatasan impor dari Australia, pasalnya pengekspor batubara termal terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, menyerukan untuk penyelidikan internasional tentang asal-usul pandemi Covid-19.

Hanya saja, secara bulanan permintaan batubara untuk semua jenis dari negeri asal Panda pada akhir Juli lalu masih turun tipis 1,5%. Hal ini terjadi seiring dengan China yang mengalami deflasi. Oleh sebab itu, patut diwaspadai dampak dari impor yang melemah bisa menahan laju batubara ke depan.

Beralih ke India, dari Desember hingga Februari impor batubara termal Australia di India telah di atas 1 juta metrik ton per bulan, memuncak pada Januari sebesar 1,79 juta.

Sementara Impor batu bara termal Rusia di India turun menjadi 709.849 metrik ton pada Juli, terendah sejak Februari dan sekitar setengah dari puncaknya sejauh ini pada 2023 sebesar 1,47 juta pada Mei.

Sebaliknya India beralih kembali ke batu bara termal, dengan kedatangan sang pasir hitam dari luar negeri pada Juli sebesar 6,87 juta metrik ton, naik dari 6,04 juta dari satu bulan sebelumnya. Impor batu bara termal ini menyumbang 63% dibandingkan jenis yang lain dan merupakan yang tertinggi sejak April lalu.

Impor batu bara China dan India yang meningkat menyebabkan arus lintas laut naik dan harga pun turut menguat. Hal ini disebabkan adanya lonjakan permintaan batu bara untuk menghadapi heatwaves lalu.

Di sisi lain dari Eropa, harga gas alam Eropa pada perdagangan pekan ini sempat melonjak akibat potensi gangguan pasokan global gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) dari Australia.

Baca Juga  OJK Jadi Pengawas Kripto, Pasukan Bappebti Pindah Kantor?

Masalah utama dalam pasokan gas ini dipicu oleh laporan tentang rencana aksi mogok yang dilakukan oleh para pekerja di kilang LNG Australia milik Chevron dan Woodside.

Australia adalah eksportir terbesar kedua LNG di dunia setelah Qatar dengan jumlah mencapai 79 juta ton. Gangguan di Australia akan berdampak besar terhadap pasokan global.

Kabar negatif dari Australia membuat harga gas alam Eropa EU Dutch TTF (EUR) sempat terbang hingga 29% pada perdagangan Rabu (9/8/2023). Pasokan LNG

Australia jarang mengalir langsung ke Eropa, membuat UE menjadi semakin bergantung pada kargo LNG lintas laut global untuk menggantikan pasokan Rusia yang dipangkas sejak perang di Ukraina.

Perlu diketahui, melonjaknya harga gas menjadi satu faktor pendorong harga batubara. Pasalnya, gas menjadi salah satu energi alternatif yang menggantikan batubara atau sebagai substitusi, sehingga pergerakan harganya saling mempengaruhi satu sama lain.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected] 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Masih Jadi Andalan, Permintaan Global Batubara Tetap Tinggi

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *