IHSG Gak Happy Weekend, 6 Saham Big Cap Ini Jadi Biangnya

Berita, Teknologi209 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (11/8/2023) akhir pekan ini, di tengah naiknya kembali inflasi Amerika Serikat (AS) pada periode Juli 2023.

IHSG ditutup melemah 0,19% ke posisi 6.879,98. IHSG masih bertahan di level psikologis 6.800 hingga akhir pekan ini.

Secara sektoral, sektor energi menjadi pemberat terbesar IHSG pada hari ini, yakni mencapai 1,35%.

Selain itu, beberapa saham juga menjadi pemberat IHSG. Berikut saham-saham yang menjadi pemberat IHSG pada perdagangan hari ini.










Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
GoTo Gojek Tokopedia GOTO -6,54 91 -3,19%
Bayan Resources BYAN -5,54 17.750 -1,80%
Bank Rakyat Indonesia BBRI -5,48 5.650 -0,88%
Bank Mandiri BMRI -4,85 5.925 -0,84%
Adaro Energy Indonesia ADRO -2,02 2.350 -2,49%
United Tractors UNTR -1,97 27.100 -1,81%

Sumber: Refinitiv

Saham teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi pemberat IHSG terbesar pada hari ini, yakni mencapai 6,5 indeks poin.

IHSG terkoreksi setelah data inflasi AS periode Juli 2023 dirilis pada Kamis malam waktu Indonesia. Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) pada bulan lalu mencapai 3,2% (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan 3,0% (yoy) pada Juni lalu. Meskipun demikian, laju inflasi di bawah ekspektasi sebesar 3,3% (yoy)

Kenaikan inflasi tersebut menjadi yang pertama kali dalam setahun terakhir, setelah dalam 12 bulan berturut-turut mencatatkan penurunan CPI.

Inflasi AS sempat menyentuh 9,1% (yoy) pada Juni 2022, tertinggi dalam 40 tahun terakhir akibat melonjaknya harga komoditas global, tertutama di sektor energi, yang dipicu perang Rusia-Ukraina.

Adapun, inflasi inti, yang tak mencakup harga bergejolak tercatat sebesar 4,7% (yoy) pada Juli 2023, turun tipis dari dari bulan sebelumnya dan ekspektasi ekonom sebesar 4,8%% (yoy).

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/mtm), CPI AS pada Juli 2023 tercatat sebesar 0,2%, tak berubah dari bulan sebelumnya dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Negeri Paman Sam juga merilis data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 5 Agustus. Jumlah pekerja yang mengajukan klaim pengangguran melonjak hingga mencapai 248 ribu. Jumlah ini lebih tinggi dari perkiraan consensus di 230 ribu.

Lonjakan data klaim pengangguran ini menjadi sinyal jika data tenaga kerja AS sudah mulai mendingin.

Meski data tenaga kerja cenderung mendingin, tetapi inflasi AS kembali memanas. Kondisi ini membuat pasar pesimis jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan segera melunak. Terlebih, sejumlah pejabat The Fed masih menyuarakan hawkish.

Presiden The Fed San Fransico, Mary Daly mengatakan jika The Fed masih memiliki pekerjaan panjang untuk menekan inflasi.

CME’s FedWatch Tool menunjukkan pasar melihat 90,5% kemungkinan The Fed akan menahan suku bunga di level saat ini yakni 5,25 – 5,50% pada September. Kemungkinan ini naik dari 86,5% pada data sebelumnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Loyo Lagi, 4 Saham Big Cap Ini Jadi Pemberatnya

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Baca Juga  PPP Pindahkan Arsul Sani ke Komisi II DPR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *