Jokowi Batuk Saat Pidato, Polusi Udara RI Mengkhawatirkan?

Berita, Teknologi217 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) terdengar mengalami batuk saat berpidato dalam acara Penyampaian RUU APBN 2024 dan Nota Keuangan, di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu, (16/8/2023).

Dalam di hadapan anggota DPR, MPR dan sejumlah tamu undangan, Jokowi yang mengenakan jas berwarna biru tua, dasi merah dan peci terdengar beberapa kali berhenti berpidato karena mengalami batuk.

Presiden Jokowi sendiri diketahui sudah empat minggu menderita batuk. Hal tersebut sebelumnya telah dikonfirmasi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno. Sejumlah pihak polusi udara Jakarta yang buruk menjadi biang keladi.

“Presiden minta dalam waktu satu minggu ini ada langkah konkret karena presiden sendiri sudah batuk katanya sudah hampir 4 minggu. Beliau belum pernah merasakan seperti ini dan kemungkinan dokter menyampaikan ada kontribusi daripada udara yang tidak sehat dan kualitasnya buruk,” kata Sandiaga awal pekan ini usai rapat terbatas mengenai ‘Peningkatan Kualitas Udara Kawasan Jabodetabek’ di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (14/8/2023).

Polusi Udara Jakarta Mengkhawatirkan

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkapkan alasan kualitas udara di wilayah Jabodetabek sangat buruk.

Siti menjelaskan, penyebab pencemaran kualitas udara ini disebabkan oleh kendaraan bermotor. Karena dari catatanya pada tahun 2022 lalu, ada 24,5 juta kendaraan bermotor dan 19,2 juta di antaranya sepeda motor.

Ia juga menampik kabar polusi udara berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya, Cilegon. Ini karena dari hasil analisis pencemaran udara tidak bergerak ke arah Jakarta melainkan ke Selat Sunda.

“Jadi bisa dikatakan bahwa bukan karena PLTU begitu ya, apalagi dilihat dari hasil studi penggunaan batubara berpengaruh ke Jakarta sih gak sampai 1%,” katanya.

Baca Juga  Anies Diyakini Bijak Memilih Bakal Cawapres

Siti juga menjelaskan faktor waktu saat pengukuran kualitas udara juga menentukan hasil tingkat polusi udara. Di waktu dini hari biasanya mendapatkan hasil yang lebih buruk karena bercampur dengan uap air.

Disorot Media Asing

Polusi Udara di kawasan Jakarta dan sekitarnya memang tengah disorot banyak kalangan, karena sejak Mei Jakarta berada di puncak 10 kota paling terkontaminasi polusi dunia.

Bahkan media asing juga banyak menyorot mengenai hal ini. Seperti Reuters memberitakan hal ini dengan judul “Indonesia’s capital named world’s most polluted city”. Ditunjukan bagaimana kualitas udara Jakarta sangat buruk di data perusahaan teknologi kualitas udara Swiss, IQAir.

“Jakarta, yang berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa, mencatat tingkat polusi udara yang tidak sehat hampir setiap hari,” muat media itu mengutip laporan IQAir.

“Saya pikir situasinya sangat mengkhawatirkan,” tulis media itu mengutip salah seorang warga bernama Rizky, 35.

Hal senada juga dimuat media Singapura Strait Times. Artikel video juga dimuat dengan judul “Jakarta named world’s most polluted city”.

Disebutkan bagaimana warga sebenarnya sudah lama mengkritik beracunnya udara. Mulai dari lalu lintas yang terlampau padat, asap industri pinga pembangkit listrik tenaga batu bara.

Pemberitaan juga dimuat South China Morning Post (SCMP). Media Hong Kong itu menyoroti risiko penyakit yang ditanggung warga Jakarta karena polusi.

“Residents fear health risks in Jakarta air,” muat media itu di berita videonya merujuk risiko polusi yang sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Masalah polusi juga dimuat media Arab, Al-Arabiya merujuk pemberitaan AFP. Disebutkan pula bagaimana konsentrasi partikel kecil yang dikenal sebagai PM2.5 melampaui banyak kota-kota berpolusi berat lainnya di dunia.

Baca Juga  11.302 Narapidana di Sumsel Dapat Remisi HUT RI

“Jakarta secara teratur mencatat tingkat PM2.5 yang ‘tidak sehat’, yang dapat menembus saluran udara hingga menyebabkan masalah pernapasan, berkali-kali lipat dari tingkat yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” tulisnya.

“Polusi udara diperkirakan berkontribusi terhadap tujuh juta kematian dini setiap tahun dan dianggap oleh PBB sebagai satu-satunya risiko kesehatan lingkungan terbesar,” tambah media itu lagi.

Sebelumnya, Jokowi juga sudah berkomentar pengurangan polusi. Salah satunya dengan memindahkan ibu kota ke Nusantara menjadi salah satu solusi mengurangi “beban” Jakarta. Juga mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Video: Hore! Bantuan Kendaraan Listrik Meluncur

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *