Mayoritas Bursa Asia Dibuka Cerah, Ketakutan Investor Mereda?

Berita, Teknologi261 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka di zona hijau pada perdagangan Selasa (22/8/2023), di tengah bervariasinya pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) kemarin, karena investor cenderung wait and see menanti Simposium Jackson Hole.

Per pukul 08:30 WIB, hanya indeks ASX 200 Australia yang terpantau melemah pada pagi hari ini, yakni turun 0,14%.

Sedangkan sisanya terpantau menghijau. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,64%, Hang Seng Hong Kong melesat 0,91%, Shanghai Composite China bertambah 0,68%, Straits Times Singapura naik tipis 0,06%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,61%.

Investor di Asia-Pasifik pada hari ini masih memantau perkembangan dari potensi kebangkrutan raksasa properti China, Evergrande. Raksasa properti China tersebut telah mengajukan perlindungan kebangkrutan di pengadilan kebangkrutan AS.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas menguat terjadi di tengah masih bervariasinya Wall Street pada perdagangan kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun 0,11%. Namun untuk indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup menguat. S&P 500 menguat 0,69%, sedangkan Nasdaq melonjak 1,56%.

Beragamnya Wall Street kemarin terjadi di tengah melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury). Yield Treasury AS acuan tenor 10 tahun melonjak 9 basis poin ke posisi 4,34%, menjadi level tertinggi selama 16 tahun terakhir atau sejak akhir 2007.

Kenaikan yield Treasury hingga menyentuh rekor tertingginya dalam 16 tahun terakhir terjadi karena investor masih khawatir bahwa suku bunga akan tetap lebih tinggi lebih lama dari perkiraan.

Pada pekan ini, investor mengantisipasi pidato Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell di simposium tahunan Jackson Hole, Wyoming, pada Jumat pagi waktu AS atau Jumat malam waktu Indonesia.

Baca Juga  UPH Sambut 4.000 Mahasiswa Baru, Termasuk dari Mancanegara

Simposium Jackson Hole adalah acara di mana para gubernur bank sentral, menteri keuangan, ekonom, dan akademisi dari seluruh dunia berkumpul untuk membahas masalah ekonomi yang paling mendesak saat ini.

Ketua The Fed, Jerome Powell akan menyampaikan pidato tentang prospek ekonomi pada Jumat pekan ini di Simposium Jackson Hole.

Powell akan memberikan pandangan terbarunya tentang apakah diperlukan lebih banyak pengetatan kebijakan untuk menurunkan inflasi di tengah pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat, atau mulai mempertimbangkan untuk mempertahankan suku bunga.

Pidato Powell akan dinanti-nanti karena secara historis memiliki efek kejut yang besar untuk pasar global.

Namun, pasar memperkirakan bahwa The Fed akan kembali menahan suku bunga acuannya di pertemuan September mendatang, setelah sebelumnya pada pertemuan Juli 2023 The Fed menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 5,25%-5,5%.

Menurut alat FedWatch CME Group, pelaku pasar melihat peluang 86% The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini pada pertemuan September mendatang.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Wall Street Cerah, Tapi Bursa Asia Kok Malah Loyo?

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *