Waduh, IHSG Masih Tertahan di Bawah Area Penting Nih

Berita, Teknologi206 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada sesi I, Senin (14/8/2023).

Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 0,27% ke 6.861,08. Sebanyak 316 saham turun, 209 naik, dan 203 stagnan.

Nilai transaksi mencapai Rp4,92 triliun dan volume perdagangan 9,50 miliar saham.

IHSG terkoreksi siang ini, mengikuti pergerakan bursa Asia-Pasifik yang juga melemah pada hari ini. Hal ini terjadi setelah dirilisnya inflasi AS pada periode Juli 2023, di mana inflasi AS kembali naik.

Inflasi ditingkat konsumen (consumer price index/CPI) AS pada bulan lalu mencapai 3,2% (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan 3,0% pada Juni lalu yang sebesar 3%. Meskipun demikian, laju inflasi di bawah ekspektasi sebesar 3,3% (yoy).

Kenaikan inflasi tersebut menjadi yang pertama kali dalam setahun terakhir, setelah dalam 12 bulan berturut-turut mencatatkan penurunan CPI.

Inflasi AS sempat menyentuh 9,1% (yoy) pada Juni 2022, tertinggi dalam 40 tahun terakhir akibat melonjaknya harga komoditas global, tertutama di sektor energi, yang dipicu perang Rusia-Ukraina.

Adapun, inflasi inti, yang tak mencakup harga bergejolak tercatat sebesar 4,7% (yoy) pada Juli 2023, turun tipis dari dari bulan sebelumnya dan ekspektasi ekonom sebesar 4,8%% (yoy).

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/mtm), CPI Negeri Paman Sam pada Juli 2023 tercatat sebesar 0,2%, tak berubah dari bulan sebelumnya dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Tak hanya CPI yang mengalami kenaikan, inflasi produsen (producer price index/PPI) Negeri Paman Sam juga mengalami kenaikan. PPI AS pada Juli 2023 meningkat ke 0,8% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,2% (yoy) dan ekspektasi pasar yang memperkirakan tumbuh 0,7% (yoy).

Baca Juga  Bos LPS Sebut RI Untung Soal Pemangkasan Rating Perbankan AS

Kenaikan inflasi yang kembali terjadi setelah selama setahun mengalami penurunan membuat pasar berekspektasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) masih akan mempertahankan sikap hawkish-nya pada tahun ini.

Analisis Teknikal




Foto: Putra
Teknikal

IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu 1 jam (hourly) menggunakan moving average (MA) dan Fibonacci retracement untuk mencari resistance dan support terdekat.

Pada sesi I, IHSG turun ke bawah area resistance penting di 6.880 (Fibonacci 78,6%). Kabar baiknya, sampai saat ini, IHSG kembali bertahan di atas support kunci, yakni garis MA 200 (6.833).

IHSG masih berada di pola rectangle yang menunjukkan fase konsolidasi dan menunggu katalis lanjutan.

Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lainnya, yakni Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.

Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20. Dalam grafik harian, posisi RSI turun ke 54,72.

Sementara, dilihat dari indikator lainnya, Moving Average Convergence Divergence (MACD), garis MACD di bawah garis sinyal usai membentuk death cross pada 2 Agustus 2023.

Di sesi II, IHSG berpeluang menguji support terdekat di 6840 dan 6.820 sebelum menentukan arah selanjutnya. Adapun, area resistance terdekat di 6.880 (Fibonacci 78,6%) dan berupa level psikologis 6.900.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Sudah di Depan Mata! IHSG Tatap Level Psikologis 6.800

(trp/trp)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *