Emisi Sektor Transportasi Diprediksi Meningkat pada 2050, Kendaraan Listrik Dinilai Efektif Turunkan Emisi: National Okezone

Uncategorized98 Dilihat

JAKARTA – Komisi Internasional untuk Transportasi Bersih (ICCT) memperkirakan bahwa elektrifikasi sektor transportasi berada pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan net zero (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Potensi kendaraan listrik baterai dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) lebih besar dibandingkan dengan jenis kendaraan yang lebih kecil.

Selain itu, kendaraan listrik baterai juga dapat meningkatkan pencapaian target penurunan GRK ketika meningkatkan bauran listrik dari energi terbarukan.

Demikian temuan ICCT dalam penelitian bertajuk “Perbandingan Emisi Gas Rumah Kaca Seumur Hidup dari Kendaraan Pembakaran dan Kendaraan Listrik pada Mobil Penumpang dan Sepeda Motor di Indonesia”.

Kajian ini dipaparkan pada “Media Workshop: Zero Emission (Emisi)” di ECO-S Coworking & Office Space Sahid Sudirman Residence, pada Kamis (28/02). Acara yang dipimpin oleh Manajer Produk Katadata Green, Jeany Hartriani ini dihadiri oleh Deputi Bidang Infrastruktur dan Koordinasi Kementerian Koperasi Maritim dan Investasi, Rachmat Kaimuddin serta dua Peneliti Senior ICCT, Aditya Mahalana dan Georg Biker. Georg adalah penulis pertama studi ini.

Rachmat mengatakan sektor transportasi merupakan penyumbang emisi GRK terbesar kedua di Indonesia dan terbesar di Jakarta.

“Pemerintah ingin mendorong penerapan kendaraan tanpa emisi. “Kendaraan terbaik untuk ini adalah kendaraan listrik baterai,” katanya.

“Menurut perkiraan ICCT, pada tahun 2050 emisi dari sektor transportasi akan berlipat ganda dibandingkan sekarang,” tambah Aditya.

Ia menjelaskan, pengurangan emisi di sektor ini dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan listrik berbahan bakar baterai.




Ikuti Berita Okezone di berita Google

Dapatkan berita terkini dengan segala berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan lainnya

Menganalisis hasil studi ICCT yang mengkaji emisi kehidupan pada kendaraan roda empat dan dua, terdapat potensi penurunan emisi GRK dengan membandingkan sumber sumber energi yang berbeda. Siklus hidup emisi mengacu pada emisi kendaraan, mulai dari proses manufaktur, bahan bakar termasuk proses penambangan, pengilangan dan pembangkitan listrik, hingga akhir masa pakai kendaraan dengan masa kerja setiap 18-20 tahun.

ICCT menggunakan asumsi penggunaan kendaraan dan sumber energi pada tahun 2023. Kajian ini juga membuat prediksi untuk tahun 2030 berdasarkan rencana pemerintah untuk mencapai target net zero emisi (NZE) pada tahun 2060, khususnya menambah bauran sumber energi terbarukan.

Baca Juga  Jadwal imsak dan waktu sholat bulan ini September 2023 Jakarta dan sekitarnya

Lima model tenaga yang dibandingkan adalah kendaraan berbahan bakar fosil (BBM), kendaraan listrik hibrida konvensional (HEV), kendaraan listrik hibrida (PHEV), kendaraan listrik sel bahan bakar hidrogen (FCEV), dan baterai listrik.

“Kendaraan baterai listrik saja menghasilkan setengah emisi kendaraan berbahan bakar bensin yang dijual pada tahun 2030, dan bahkan lebih sedikit lagi,” kata Georg Bieker.

Studi tersebut memperkirakan bahwa emisi seumur hidup kendaraan listrik baterai untuk segmen mobil kecil, sport utility vehicle (SUV), dan kendaraan multiguna (MPV) pada tahun 2023 akan 47-56 persen lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin. Sementara itu, proyeksi emisi seumur hidup SUV pada tahun 2030 diperkirakan 52-65 persen lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang diproduksi pada tahun 2023.

Jika pengisian baterai kendaraan listrik menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan, emisi energi bisa lebih rendah hingga 85 persen.

“HEV dan PHEV dapat membantu mengurangi emisi, namun tidak dalam jangka panjang. “Kedua kendaraan ini memungkinkan tercapainya tujuan NZE 2060,” kata Bieker. HEV juga menggunakan bahan bakar dan hanya menawarkan manfaat efisiensi bahan bakar. PHEV juga bergantung pada bensin sebagai bahan bakar utamanya.

Sepeda motor listrik juga masuk dalam studi ICCT. Berdasarkan penelitian tersebut, sepeda motor listrik juga berpotensi menurunkan emisi GRK dibandingkan sepeda motor konvensional. Penelitian ICCT menunjukkan bahwa pada tahun 2023, emisi seumur hidup sepeda motor di sektor sepeda motor listrik akan lebih rendah 26-35 persen dibandingkan sepeda motor berbahan bakar bensin.

Proyeksi emisi seumur hidup sepeda motor listrik pada tahun 2030 berpotensi menurunkan emisi sebesar 34-51 persen dibandingkan sepeda motor berbahan bakar bensin yang diproduksi pada tahun 2023.

Studi ICCT menyarankan empat pilihan kebijakan. Pertama, pemerintah dapat menerapkan kebijakan penting untuk meningkatkan produksi baterai dan kendaraan listrik dalam negeri.

Strategi tersebut dapat diikuti dengan penetapan target produksi dan penjualan kendaraan listrik oleh Kementerian Perindustrian. Kebijakan ini juga dipadukan dengan insentif pengurangan pajak bagi produsen mobil listrik.

Baca Juga  Ramalan Zodiak 22 November 2023 untuk Aquarius dan Pisces: Kehidupan Laut

Kedua, pemerintah dapat mempertimbangkan untuk mengakhiri produksi dan penjualan mobil dan sepeda motor berbahan bakar bensin, serta HEV dan PHEV, pada tahun 2040. Hal ini penting untuk mempercepat pencapaian target NZE tahun 2060.

Ketiga, pemerintah dapat menetapkan mandat penjualan kendaraan listrik dan/atau menerapkan kebijakan Common Fuel Fuel (CAFE) untuk membantu produsen meningkatkan pangsa kendaraan listrik bertenaga baterai. Perlu diketahui, Standar CAFE merupakan upaya untuk mengurangi konsumsi bahan bakar kendaraan, seperti mobil kecil dan truk, dengan menerapkan standar efisiensi bahan bakar.

Sebagai opsi terakhir, pemerintah pusat dan daerah dapat mempertimbangkan pemberian subsidi untuk pembelian kendaraan listrik bertenaga baterai dan insentif pajak yang lebih luas. Kebijakan ini diimbangi dengan kebijakan feebate/rebate atau cukai bagi kendaraan yang tingkat polusi atau konsumsi bahan bakarnya tinggi.

Selain insentif, kebijakan non-insentif seperti beda genap di Jakarta atau penerapan tarif khusus parkir mobil aki dan lainnya bisa membantu, kata Aditya. Ia juga mengusulkan opsi diskon untuk pengisian baterai kendaraan listrik di luar jam sibuk (dari senja hingga fajar).

Menurut Rachmat, pemerintah akan terus melanjutkan insentif keringanan pajak, serta peraturan penangguhan bea masuk kendaraan listrik untuk mendongkrak produksi dalam negeri.

Pemerintah, katanya, sedang bersiap menarik investor seperti Citroën untuk membangun kendaraan listrik bertenaga baterai di dalam negeri mulai Juli tahun ini. Rachmat juga mengatakan, pemerintah sudah memberikan dua jenis insentif untuk sepeda motor dan kendaraan listrik. “Untuk sepeda motor kami berikan bantuan sebesar Rp7 juta, untuk mobil 10 persen pajaknya ditambah pemerintah,” ujarnya.

Saat ini sektor transportasi menyumbang 27 persen emisi GRK dan berpotensi meningkat pesat seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional. Beberapa manfaat dekarbonisasi sektor transportasi antara lain mengurangi jumlah orang yang rentan terhadap dampak buruk kesehatan dan produktivitas akibat polusi udara, mendukung ketersediaan udara bersih bagi kesehatan manusia, dan mengurangi impor minyak dan anggaran pemerintah untuk subsidi minyak. .

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *