Itu sebabnya Tol MBZ menggunakan Rencana Rancang Bangun: Kawasan Ekonomi

Uncategorized38 Dilihat

JAKARTA – Perubahan spesifikasi teknis pada bagian konstruksi Proyek Jalan Tol Jakarta Cikampek II ruas Cikunir-Karawang Barat atau dikenal dengan Jalan Sheikh Mohammed bin Zayed Road (MBZ) tidak melanggar cara pemasaran yang digunakan yaitu design and build sebuah jalan.

Dengan metode perancangan dan konstruksi, PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC) selaku pemilik proyek memberikan usulan desain, ukuran dan standar kualitas. Oleh karena itu, perubahan detail teknis dapat dilakukan karena rencana desain dan konstruksi hanya bersifat makro dan tidak membicarakan spesifikasi.

“Cara desain dan konstruksinya tidak mencantumkan spesifikasi teknis. “Rincian spesifiknya adalah domain kontraktor, bukan pemilik proyek,” kata Pakar Jasa Purchasing Products and Supply Chain Management Yudha Kandita, Jakarta, Jumat (21/6/2024)

Menurut Yuda, pemasaran dengan desain dan perencanaan memiliki ciri khas. Pemilik proyek hanya memberikan petunjuk dasar yang dijadikan acuan bagi kontraktor. Setiap kontraktor akan menafsirkan spesifikasinya.

“Spesifikasi tersebut akan kami uji apakah yang ditawarkan kontraktor relevan dengan desain dan konstruksi pemilik proyek,” kata Yuda.

Yuda menambahkan, proses lelang atau keputusan pemenang lelang tidak mengacu pada Desain Teknologi Informasi (DED), desain dan konstruksi informasi. Sebab, desain dan cara pemasarannya tidak mengandung DED.

“Dalam desain dan konstruksi tidak ada DED atau spesifikasinya. Belum ada ukuran besi. Jadi proses pemasarannya hanya mengacu pada prinsip desain saja, kata Yuda saat hadir sebagai saksi dalam sidang dugaan korupsi pembangunan Tol MBZ di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu.

Ikuti Berita Okezone di berita Google

Dapatkan berita terkini dengan segala berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan lainnya

Baca Juga  Rupiah Anjlok Nyaris Rp16.000 USD, Sri Mulyani Bisa Apa? : Ekonomi Zona Atas

Sementara itu, Direktur Keuangan JJC Harris Prayudi menjelaskan sebelumnya, metode desain dan konstruksi dipilih karena keterbatasan waktu konstruksi. Biaya tambahan dalam metode desain dan konstruksi serta biaya lump sum akan ditanggung oleh kontraktor.

Dalam sidang sebelumnya, mantan Direktur Utama JJC Djoko Dwijono tampak menolak klaim senilai Rp 1,4 triliun dari KSO Waskita-Acset selaku kontraktor proyek jalan Japek II.

“PT JJC tidak menyetujui hak tersebut karena tidak ada instruksi dari pemilik proyek (PT JJC) atau persetujuan usulan PT JJC mengenai hak pekerjaan tersebut,” kata Sugiharto yang bekerja sebagai Vice President Infrastruktur II PT Waskita Karya. periode Maret 2019 sampai dengan Maret 2021 dan Vice President Infrastruktur II PT Waskita Karya periode Maret 2021 sampai dengan 17 Desember 2021, dalam sidang Selasa (14/5).

Menindaklanjuti Saluran WhatsApp Okezone untuk update berita baru setiap hari

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *