Kisah Luhut Binsar Pandjaitan Hampir Tewas Berulang Kali dalam Operasi Seroja: Zona Atas Bangsa

Uncategorized208 Dilihat

JAKARTA – Kiprah Seroja di Timor Timur (Timtim) yang kini bernama Timor Leste juga dikenang Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan.

Dalam operasi tersebut, nyawa Jenderal Kopassus nyaris mati jika terlalu lama bergerak. Peristiwa yang hampir merenggut nyawa Luhut itu terjadi saat lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) tahun 1970 itu dimutasi ke wilayah kerja di Dare, dekat selatan kota Dili.




Dikutip dari buku Kopassus untuk Indonesia, disebutkan bahwa Luhut yang saat itu berpangkat Letnan Satu (Lettu) dan menjabat Komandan Kompi A ditugaskan untuk mengambil alih wilayah Dare, termasuk Aileu. dan membantu Batalyon 406 yang dijebak oleh kelompok militer Fretilin Tropas.

Pada 9 Desember 1975, pria kelahiran Toba Samosir, Sumatera Utara, 28 September 1947 ini beserta pasukannya kemudian diterbangkan dengan pesawat menuju daerah sasaran di Bacau.

Bersama pasukannya, Luhut sempat terlibat konflik sengit dengan kelompok bersenjata Fretilin.

Kemudian dari Bacau saya dievakuasi lagi dari Dili karena dianggap masih segar. Hal inilah yang menjadi mesin Grup 1 atau Detasemen ketika masuk ke Aileu, masuk Dare. , masuk Besilau dan seterusnya,” ujarnya.

Saat memasuki wilayah Dare, Jenderal Kopassus yang kini menjabat sebagai Panglima Maritim dan Investasi (Menko Marves) juga sempat terlibat baku tembak dengan musuh.

“Suatu ketika saya berada di daerah Dare, dekat selatan Dili, terjadi tembakan keras. Aku sujud, aku lari ke depan ke tempat lain, ada orang TBO (petugas pendukung pelayanan) yang membantuku, lari ke tempatku, butuh waktu 1 menit, tidak, tidak, tidak ada gunanya memukul kepalamu. mayat. Jadi kalau saya tidak bergerak semenit yang lalu, saya pasti sudah mati,” kenangnya.

Baca Juga  Bawaslu akan mengawal penyaluran bansos pada Pilkada Serentak 2024: National Okezone

Tak hanya itu, kematian juga nyaris merenggut nyawa mertua Ketua DPR (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat merebut kawasan Aileu.

Ikuti Berita Okezone di berita Google

Dapatkan berita terkini dengan segala berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan lainnya

Meski berhasil merebut Aileu, bukan berarti Luhut dan pasukannya selamat. Ancaman serangan kelompok militer Tropas yang merupakan pasukan elite Fretilin bisa saja terjadi sewaktu-waktu.

Luhut perlu mewaspadai hal tersebut, mengingat Tropas memiliki motivasi tinggi, kekuatan senjata, dan penguasa tanah yang sempurna.

Saat bertempur di medan datar Kopassus lebih unggul, namun saat bertempur di medan berbukit Fretilin mampu memanfaatkan sifat keunggulannya.

Tropas adalah orang-orang elit untuk serangan infanteri. Pasukan adalah tentara yang dilatih sesuai standar NATO.

Mereka memiliki pengalaman tempur di Mozambik dan Angola. Mereka mempunyai kemampuan tempur, menggunakan pertahanan, mengeksploitasi medan dan mengatur pertahanan dengan baik.

“Kami tunjukkan ketika TNI tiba di Dili, banyak yang tewas akibat tembakan di dada dan kepala. “Bukan karena suara senapan otomatisnya, tapi soal akurasinya,” ujarnya.

Saat mempertahankan wilayah yang direbut, Luhut yang akrab dipanggil “Harimau” mendapat telepon dari Asisten Operasi Mabes ABRI, Kolonel M. Sanif yang saat itu menjabat sebagai Komandan Operasi dan menyebut namanya “Paul”.

“Harimau!, ini Paul!” kata Sanif

“Harimau sudah siap di sini,” jawab Luhut.

Saat itu, mereka meminta Luhut membuka peta wilayah tempat tinggalnya. Kolonel Sanif kemudian menggambarkan situasi Luhut saat itu yang rawan mundurnya musuh.

Alasannya, kedudukan Luhut dan prajuritnya kalah dibandingkan musuh. Berkat teguran itu, Luhut jadi lebih waspada. Malam harinya, Luhut meminta anak buahnya terus waspada dan menciptakan perlindungan agar tidak menjadi sasaran tembak.

Baca Juga  Buktikan Safari Puan ke JK dan Luhut Bentuk Silaturahmi, Ini Respons TPN atas Hadiah dari Presiden: Okezone Country

Hal menarik terjadi, menjelang tengah malam di tempat Luhut berada, musuh menyerang habis-habisan.

Namun karena persiapannya lebih awal, serangan itu bisa kita kalahkan,” kenang Luhut dalam otobiografinya “Luhut” yang ditulis oleh Nurmala Kartini Pandjaitan, adik perempuannya.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *