Pangdam Cendrawasih Akui Prajuritnya Mencuri Warga Papua: Saya Minta Maaf: Okezone Nation

Uncategorized45 Dilihat

JAKARTA – Pangdam XVII/Cendrawasih, Mayjen TNI Izak Pangemanan meminta maaf atas aksi kekerasan terhadap salah satu warga Papua yang diketahui Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Definus Kogoya yang videonya viral di media sosial.

Hal itu diungkapkannya saat konferensi pers yang digelar di Sub Denma Mabes TNI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (25/3/2024).

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen. Jenderal. Nugraha Gumilar dan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Kristomei Sianturi turut mendampingi dan memberikan informasi kepada awak media.

Izak menjelaskan, prajurit tersebut merupakan anggota Yonif Raider 300/Brajawijaya yang bertugas di Satuan Tugas Keamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) di Papua sejak 3 April 2023.

Dugaan penganiayaan tersebut terjadi saat prajurit TNI menangkap anggota KKB di Papua bernama Definus Kogoya di Post Gome, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah pada 3 Februari 2024.

“Kemarin viral sebuah video tentang tindakan kekerasan yang dilakukan prajurit TNI. Kami sangat menyayangkan hal ini terjadi. Hal ini tidak boleh terjadi dalam upaya kita menyelesaikan masalah Papua dengan cara yang benar,” kata Isaac.

Izak menyayangkan ada tentara yang berbuat tidak senonoh terhadapnya. Ia menegaskan, prajurit TNI tidak menggunakan taktik kekerasan dalam menjalankan tugasnya.

“Yang kita putuskan adalah pelaksanaan tugas menjalin hubungan baik dengan masyarakat. Menjadi amanah masyarakat, ikut serta masyarakat dalam pembangunan di parlemen. Masyarakat bertani, membeli melalui pos. Hubungan yang baik itu berjalan dengan baik.” katanya.




Ikuti Berita Okezone di berita Google

Dapatkan berita terkini dengan segala berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan lainnya

Kami sangat menyayangkan kehadiran tentara nekat yang melakukan kejahatan tersebut.

“Kami sudah melakukan tes, ternyata video tersebut benar-benar terjadi, sehingga Kodam 17 Cenderawasih selaku TKP segera mengambil tindakan dengan membentuk tim investigasi yang bekerja di Puncak Jaya, khususnya di Ilaga, Gome tempat kejadian tersebut terjadi. ” jelasnya.

Baca Juga  Shakira Jasmine Masuk IGD Sebelum Syuting Video Lagu Duetnya Bersama Arash Buana: Okezone Celebrity

Tim Anda juga akan menyelidiki masalah ini secara menyeluruh, apa pun yang terjadi akan dituntut oleh semua pihak.

“Kami telah meminta bantuan penyidikan kepada Kodam III Siliwangi karena Yonif 300 sudah pensiun dari dinas. Saat ini sedang dilakukan penyidikan terhadap mereka yang diduga terlibat dalam kejahatan tersebut. kearifan lokal tentang banyaknya permasalahan yang ada di tanah Papua,” kata Izak.

Izak meminta maaf atas pelanggaran yang dilakukan anggota TNI karena akan kembali melakukan upaya menjaga perdamaian di Papua.

Saya atas nama TNI mengakui tindakan ini tidak dapat dibenarkan, tindakan ini melanggar hukum, tindakan ini merusak nama baik TNI, tindakan ini melemahkan upaya penyelesaian konflik di Papua, kata Izak.

“Saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat Papua. Dan kami akan terus berupaya agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Kami akan menjaga TNI yang sedang melakukan pekerjaan di wilayah Papua,” imbuhnya.

Izak menegaskan, dirinya akan terus mendorong supremasi hukum dan kompensasi bagi masyarakat Papua adalah keadilan. Dia mengatakan, proses hukumnya bisa diakses masyarakat, kami akan berikan aksesnya.

“Sekali lagi saya mohon maaf kepada masyarakat Papua, dan ke depan saya akan meningkatkan pengawasan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tutupnya.

Sementara itu, Komandan Pusat Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Kristomei Sianturi mengatakan, viralnya video penganiayaan prajurit TNI dari Yonif 300 Raider akan menjadi alat introspeksi.

“Kita harus terus memantau dan mengendalikan petugas yang bertugas di lapangan. Kostrad sudah memerintahkan PM TNI AD dan Pomdam Siliwangi mempelajari keterkaitan masing-masing prajurit TNI yang terlibat langsung,” ujarnya.

Ia mengatakan, telah memeriksa 42 prajurit TNI, dan terungkap 33 prajurit melakukan pembunuhan.

Pangdam Cenderawasih sudah mengeluarkan perintah penahanan, orang-orang tersebut akan ditahan di tahanan militer di Kodam Siliwangi dan akan ditetapkan sebagai tersangka, jelas Kristomei.

Baca Juga  Kasus Covid-19 di Singapura meningkat signifikan, para ahli menyarankan masyarakat mendapatkan vaksin: Okezone health

Seperti kita ketahui, Mahkamah Agung Republik Indonesia (PGI) menyayangkan video penyiksaan terhadap warga sipil di Papua yang diduga anggota TNI telah menimbulkan kemarahan luas di kalangan warga sipil dan aktivis hak asasi manusia.

“Tindakan penyiksaan ini akan menambah rantai kekerasan yang berujung pada korban warga sipil dan aparat keamanan (TNI/Polri) di zona konflik Papua,” kata perwakilan Biro PGI Papua, Pdt. Ronald Riskard dalam keterangan tertulis yang diterima awak media, Senin (25/3/2024).

Menyikapi peristiwa tersebut, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bernama Ronald Riskard menyerukan tiga hal utama, yaitu:

1. Manusia adalah gambaran Tuhan (Imago Dei) yang patut dihormati dan diagungkan, oleh karena itu PGI mengecam keras tindakan penyiksaan terhadap warga sipil di Papua. Kepada para korban dan keluarganya, PGI menyampaikan belasungkawa dan mendorong seluruh mitra ekumenis untuk membantu menyembuhkan trauma para korban, keluarga korban, dan masyarakat terdampak di Papua.

2. Tindakan penyiksaan ini bertentangan dengan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Kekejaman, Kebodohan atau Penyakit atau hukuman lainnya yang disetujui Indonesia melalui Undang-undang No. 5 Tahun 1998. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk bersatu dan bersatu menentang hal ini. penyiksaan dan perlindungan hak asasi manusia di Papua.

3. Mendorong investigasi menyeluruh untuk mengungkap pelanggaran HAM yang terjadi, menegakkan akuntabilitas, mencegah penyiksaan, dan memberikan keadilan kepada korban. Selain itu, sistem pemantauan dan pelaporan yang independen perlu diperkuat, serta penegakan hukum yang kuat dan transparan untuk mencegah praktik serupa terjadi di masa depan.

“Kami berharap peristiwa tragis ini tidak mematahkan semangat kita untuk terus bekerja sama mengakhiri kekerasan di Tanah Papua, serta mengakui Papua sebagai Tanah Damai secara utuh dan umum,” pungkas Ronald Riskard.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *