Saat Pangeran Diponegoro Menulis Alquran dengan Tangannya Sendiri: National Okezone

Uncategorized128 Dilihat

JAKARTA – Pangeran Diponegoro bernama lengkap Raden Mas Ontowirjo dikenal sebagai pahlawan pemberani yang bersimpati kepada penjajah Belanda.

Raja Diponegoro ditampilkan mengenakan jubah putih dan menunggang kuda dengan membawa Al-Quran tulisan tangannya.




Pada tahun 1825-1830, pada masa perang melawan Belanda, Pangeran Diponegoro menyebarkan dakwah Islam di banyak daerah yang dikunjunginya. Salah satunya di kawasan Magelang, daerah yang dikenal sebagai pusering (tengah) Pulau Jawa dengan hadapan Gunung Tidar.

Diponegoro menulis langsung Alquran yang juga masih terpelihara dengan baik. Alquran disimpan di Masjid Langgar Agung Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro, Dusun Kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Alquran ini terlihat tebal dan ukurannya besar. Penutupnya terbuat dari kulit. Berdasarkan cerita para sesepuh Masjid Langgar Agung Diponegoro, Alquran ditulis sekitar tahun 1825-1830.

Toh, penulisannya menggunakan gula enau (inau) dan keistimewaannya adalah tintanya tidak luntur. Kualitas kertas sangat bagus, dan tinta tidak luntur.

Ikuti Berita Okezone di berita Google


Alquran juga memiliki hiasan berupa batik, kata Pengelola Masjid Langgar Agung Diponegoro, KH Ahmad Nur Shodiq beberapa waktu lalu.

Berdasarkan penelitian, hiasan batik pada Alquran tulisan tangan Pangeran Diponegoro ternyata merupakan pola atau corak dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal ini sejalan dengan pemimpin asal Yogyakarta yaitu Pangeran Diponegoro.

“Ada tiga tugu peninggalan Pangeran Diponegoro yaitu Al-Quran, tasbih, dan pakaian. Al-Quran menunjukkan bahwa beliau bijaksana dalam bidang keagamaan, tasbih menunjukkan bahwa beliau bijaksana dalam wirid dan pakaian menunjukkan bahwa beliau bijaksana. Sufi,” katanya.

Pada masa perang melawan Belanda di Magelang, Pangeran Diponegoro sering berdoa di musala di Dusun Kamal, Menoreh, Salaman. Sementara itu para prajurit diminta bersembunyi di sebuah gua.

Baca Juga  Jalan Gatot Subroto hingga Simpang Susun Semanggi diketahui apks di Masa Tenang: Okezone Megapolitan

Tempat dimana Omoba Diponegoro melaksanakan salat sebagai imam adalah Masjid Langgar Agung Diponegoro. Masjid ini mempunyai keunikan yaitu menaranya setinggi 25 meter yang didominasi oleh tanaman hijau.

Masjid ini dibangun sekitar tahun 1946 oleh ABRI (TNI) bersama daerah sekitarnya. Namun pembangunan terhenti pada tahun 1965 akibat pecahnya pemberontakan G30S/PKI.

Pembangunan dilanjutkan setelah sekitar tahun 1972. Saat itu sempat terjadi kebingungan dalam penamaan tempat ibadah tersebut karena di tempat yang berjarak sekitar 100 meter itu juga terdapat masjid besar.

Akhirnya takmir pertama yaitu H Fathoni yang juga orang tua saya menyarankan agar kita sebut saja Langgar Agung, karena sudah ada masjid. Tapi nyatanya ini masjid, ujarnya.

Sejak diresmikan pada tahun 1972, Masjid Langgar Agung belum pernah direnovasi. Pengelolaan masjid bergantung pada sumbangan jamaah untuk memelihara masjid.

Dengan ukuran lebar 8 meter dan panjang 18 meter, masjid ini berfungsi sebagai tempat ibadah masyarakat dan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Falah yang terletak satu kompleks dengan masjid.

Sedangkan di depan masjid terdapat Jam Istiwak sebagai tanda azan. Setiap 5 hari posisi jam diperiksa.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *