Saran Letjen. MT Haryono Untuk Putranya Sebelum PKI Menyerang: Hindari Politik: Zona Atas Negara

Uncategorized143 Dilihat

Kesedihan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (PKI) atau G30S PKI meninggalkan masyarakat yang sangat trauma dengan ketidakadilan organisasi terlarang tersebut. Enam perwira senior Angkatan Darat (AD) dan seorang ajudannya tewas teror di tangan PKI.

Sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, ternyata sudah ada ramalan dan banyak ketidakpedulian dari keluarga para jenderal korban PKI kita. Salah satunya, keluarga Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (MT Haryono) rupanya merasa asing dengan perwira TNI kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924 ini.

Sehari sebelum kejadian sore hari tanggal 30 September 1965, beberapa tentara berada di dekat rumahnya. Salah satu dari mereka menanyakan di mana rumah MT Harjono. Tiba-tiba, tiba-tiba, mereka menunjuk ke rumahnya sendiri.

Ramalan lain juga dialami putri bungsu MT Haryono, Enda Marina. Saat semua orang sibuk menata anggrek sambil mendengarkan nyanyian polisi, Enda yang ingin mendatangi ayahnya malah memintanya menjauh. Suatu kelakuan yang aneh bagi Enda yang selalu dekat dengan ayahnya. Belum lagi, pada malam sebelum kejadian, Enda juga bermimpi tentang beberapa sosok misterius yang menikam ayahnya hingga membuatnya tak berdaya dan berlumuran darah.

Sang jenderal juga tidak pernah membicarakan politik dengan anak-anaknya di rumah dalam kesehariannya. Namun saat itu putra sulung MT Haryono, Harianto Harjono atau biasa disapa Babab tiba-tiba diajak ayahnya bicara soal politik.

Bahkan, MT Haryono menjelaskan nasehat atau suka itu seperti nasehat terakhir kepada putranya.

“Bab, kalau sudah tua mending menjauhi politik. Karena politik sangat berbahaya. Politik membenarkan cara apapun. “Selama kamu berada dalam suatu kelompok, kelompok itu akan menganggapmu sebagai teman,” kata MT Haryono kepada Babab. “Tetapi jika kalian berpisah, kalian akan dianggap musuh. Mereka akan melupakan persahabatan dan perbuatan baik yang telah mereka lakukan sebelumnya. Inilah sebabnya mengapa Anda tidak perlu terjun ke dunia politik. Anda boleh bergabung dengan tentara, tapi sekali lagi, jangan bergabung dengan politik!” seru sang jenderal, yang merupakan pesan terakhirnya kepada putranya.

Baca Juga  Perlu diketahui, ini adalah sistem rating yang paling banyak digunakan agar tidak salah memilih game: Okezone Techno

Ikuti Berita Okezone di berita Google


Hingga peristiwa malam mengerikan itu terjadi. Sekelompok prajurit Tjakrabirawa yang tergabung dalam partai politik PKI menyusup dan memfokuskan kebrutalannya terhadap sejumlah perwira tinggi TNI AD.

Sebelum kejadian dini hari bulan Oktober 1965, Wakil Menteri Militer III Bidang Perencanaan dan Pembangunan mempunyai firasat bahwa ia akan menjadi sasaran kekerasan dari beberapa kelompok sayap kiri. Salah satu perwakilan Menteri Militer Letjen. TNI Ahmad Yani, turut gugur sebagai bunga negara.

Berita tentang rencana penculikan dan pembunuhan itu benar adanya, kata asisten MT Haryono dikutip dalam buku ‘Tujuh Prajurit TNI Jatuh: 1 Oktober 1965’.

“Untuk apa? Aku dan keluargaku tidak perlu mengurusnya!” MT Harjono menjawab jujur.

Menurut seorang petinggi TNI AD, rumah MT Haryono saat itu sama sekali tidak terlindungi. Bahkan, dia tak mau menggunakan sumber daya negara untuk memberikan keamanan pada tentara di rumahnya.

Namun kejadian kelam pada 1 Oktober tiba, sekitar pukul 04.00 dini hari, rumah MT Harjono di Jalan Prambanan Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat didatangi rombongan prajurit Tjakrabirawa.

“Assalaamualaikum!,” serma Bungkus, ketua rombongan sambil mengetuk pintu.

Mariatni, istri sang jenderal, membuka pintu dan bertanya mengapa orang-orang kuat berpakaian dan bersepatu itu datang. Bung Karno menelpon bapak. “Ada rapat penting yang harus bapak hadiri sekarang,” jawab Serma Bungkus.

Setelah itu, Mariatni hendak menculik MT Haryono, namun preman kembali masuk ke dalam rumah. “Di luar ada tentara yang mengaku utusan Bung Karno. Mereka meminta Baba untuk ikut bersama mereka. “Ada pertemuan penting di Istana Bogor,” kata Mariatni kepada suaminya.

“Tidak ada pertemuan pagi seperti ini,” jawab MT Harjono.

Baca Juga  Jadwal imsak dan waktu sholat bulan ini Oktober 2023 Jakarta dan sekitarnya

Sang jenderal langsung curiga dan menyuruh istri dan anak-anaknya meninggalkan kamar mereka dan pergi ke tempat yang aman. “Kamu harus segera pindah kamar dan membangunkan anak-anak, karena mereka akan membunuh saya. “Pindah ke ruang depan bersama anak-anak,” kata MT Harjono, sayangnya itu adalah kata-kata terakhir sang jenderal kepada istrinya.

Tak lama setelah Mariatni membawa pergi anak-anaknya, ia mendengar suara berbagai senjata ditusukkan ke tubuh MT Harjono. Mereka membawa jenazahnya keluar rumah, melemparkannya ke dalam truk dan pihak keluarga tidak tahu di mana mereka meletakkan jenazahnya.

Mariatni segera berusaha menghubungi kerabatnya namun sayangnya saluran telepon rumah terputus. Ia kemudian mendatangi rumah Asisten Intelijen Menteri Pertahanan Mayjen TNI Siswondo Parman dan kemudian ke rumah Menteri Pertahanan Letjen Ahmad Yani. Apa yang dilihatnya tidak berbeda dengan apa yang dilihat suaminya.

Sepeninggalnya, Mayjen MT Haryono dipromosikan menjadi Letjen atau Letjen (Anumerta) MT Haryono.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *